7/17/25

Kita Semua adalah Sore?

Kalau dipikir-pikir, kapan terakhir nonton film yang sampai nangis bombay?

Sepulang kerja, aku menyempatkan nonton film yang belum lama ini muncul di bioskop di bilangan Kuningan. Sempat aku membatin, “kalau rame gini apa bakal dapet ya pesan filmnya?”

Hei batin, ternyata berkecamuk toh kamu dibuat oleh Sore? Hahaha..

Di tengah perasaan aneh yang menggelutiku sepanjang perjalanan pulang —bahkan perasaan ini sampai seharian tak hilang, aku coba menuliskan perspektifku dari apa yang aku tonton dan kurasakan, yang entah kenapa rasanya... begitu personal.

Ini tentang Sore: Istri di Masa Depan. And this is my personal take about the film —spoiler alert!

Di awal, misi Sore sudah jelas dan bisa kita sepakati: ingin membuat Jo menjadi lebih baik dengan berusaha menghentikan segala kebiasaan buruk Jo.

Sore sedih, marah, bahkan frustrasi tiap kali membayangkan kematian Jo yang akan datang di masa depan akibat gaya hidup Jo yang belum berubah.

Sampai di satu momen, Sore sadar, yang ia usahakan itu sia-sia. Tapi Sore masih punya harapan kalau Jo—sebagai manusia—masih bisa berubah.

Akhirnya, Sore mencoba mengubah fokusnya menjadi mengubah sosok Jo yang ada di hadapannya.
Bukan lagi soal mengubah masa lalu,
Bukan pula mengubah kematian Jo.

Ia fokus dengan Jo yang masih hidup dan masih bisa ia cintai, walau Sore pun meyakini kematian Jo di dalam garis takdirnya tetap tidak bisa diubah.

Sore kemudian mengubah tujuannya, dan kali ini, ia mau mendampingi Jo berproses... sesederhana karena Sore mencintai Jo.

Sayangnya, kenyataan pahit datang dan menjadi sosok Waktu. Perjalanan yang berulang, waktu yang bergulir, momen Sore bersama Jo pun mulai terkikis.

Sekalipun Sore memohon kepada waktu untuk diberi kesempatan sedikit lagi bersama Jo, waktu tidak bisa diubah—digambarkan dengan marahnya sang waktu.

Dari proses berulang-ulang-ulang kali ini,
ini bukan soal mengubah masa lalu, atau kebiasaan jelek Jo, bukan pula menyembuhkan luka lama,
tapi soal bisa hidup lebih lama bersama Jo—yang Sore cinta.

Ribuan alternatif takdir ditempuh keduanya. Hingga akhirnya, Sore pasrah... berserah. Menurut Sore, lebih baik ia mati berpuluh ribu kali daripada harus hidup tanpa Jo.

Dan pada akhirnya... film Sore tidak sesederhana Sore sadar kalau Jo hanya butuh dicinta dan didampingi di setiap langkahnya. Bukan juga menyoal tentang hakikat perempuan yang mencinta dan laki-laki yang butuh dimengerti.

Aih, dalamnya... 

No comments:

Post a Comment