5/7/25

Taking a break

Berapa lama kalian bertahan deactivate akun Instagram? Sehari, seminggu, sebulan, atau enam bulan?

Yes, I am currently taking a break from my daily IG routine. Sederhana sekali alasannya: aku merasa lelah tiap melihat hampir setiap orang yang mutual denganku memiliki pattern postingan yang sama. Rasa lelahku akan hal ini sudah di titik tak lagi menyehatkan rasanya, mungkin hanya 10-15 dari sekian ratus yang pattern-nya berbeda. Logout saja tidak mempan —ini karena Instagram tidak memiliki fitur yang oke soal logout 1 akun dalam 1 device.

Lagipula, siapa bilang medsos hanya medsos aja?

Kata mereka ‘cuma’ medsos, tapi kini media sosial sudah bergeser peran dan fungsinya lho. Kalau memang ‘cuma’, untuk apa ada brand/perusahaan yang butuh merekrut karyawan yang khusus mengurus hal ini?

Ku ceritakan sedikit pekerjaanku menjadi anak medsos yang berjalan 5 tahun (di dunia profesional).. keseharianku membuat aku harus mengakses 4 akun profesional + 1 akun pribadi di hampir setiap waktu dalam 24 jam. Apalah itu second account, mana terpikir. Di jam-jam tertentu, aku membaca dan meriset materi kontenku, lalu aku mengetik, dan kemudian aku memposting kontenku. Tak berhenti sampai situ, setiap konten yang sudah kubuat dan posted, aku harus bisa menganalisis beberapa hal: 
- is this content works or not?
- how’s the engagement?
- and how’s the audience POV while reading the whole content?

Yang menurut mereka ‘cuma’, ya di dalamnya tidak begitu. Bisa menjadi kompleks atau tidak, tergantung bagaimana posisi medsos untuk brand/perusahaan tersebut. Jika memang berada di industri digital, pastilah medsos kompleks.

Aih, untuk apa kujelaskan panjang lebar, toh ini bukan seminar atau sharing session soal medsos 😅

Kembali lagi ke ceritaku. Aku sedang beristirahat dan mencoba kembali fokus untuk menikmati dunia nyata agar tidak tenggelam dalam perasaan lelah karena dunia maya. Aku membaca buku, berinteraksi dengan teman, bekerja seperti biasa, dan sesekali aku main twitter. Aku tidak depresi, hanya butuh rehat sejenak. Sejenak… bisa dua minggu, sebulan, atau mungkin lebih? Hanya belajar mengikuti kesiapan diriku sendiri, sebagaimana aku sedang belajar memanusiakan manusia.

Sejauh ini, rasa ini bisa kunikmati kok.


No comments:

Post a Comment