Kalender menunjukkan sebentar lagi ada yang akan hangus. Kulirik jatah cuti tahunan yang masih di angka 8, daripada terbuang sia-sia karena tak bisa jadi rupiah, kuputuskan untuk mengambil beristirahat dari layar dan hiruk-pikuk informasi yang jadi keseharian. Awalnya, aku bertekad
solo trip dari tanggal 20-27 April ke Purwokerto, Solo, dan Jogja.
Ternyata, Tuhan Maha Baik, banyak sekali surprise dari perjalanan ‘iseng’ ini dan jika dari 3 kota tersebut diturunkan, beranak-pinak aku terbawa ke daerah baru lainnya.
 |
| Sokaraja, Purwokerto, Baturraden |
> Purwokerto
Siapa sangka kota ini bisa memberi kesan pertama yang baik untukku? Urusan kuliner memang tidak banyak ragamnya, tapi keramahan dan kesederhanaan justru terasa nyata di sini. Definisi slow-living lebih terasa di sini ketimbang di Solo. Walaupun slow-living, kota ini lebih memerhatikan infrastruktur transportasi umum ketimbang kota lain yang aku kunjungi. Kedatangan selanjutnya ke kota ini satu-dua hari tidak akan cukup, harus lebih dari tiga hari.
> Baturraden
Kalau ada yang bilang Tawangmangu atau Sekipan itu bagus, jangan salah, Baturraden lebih dari itu! Telaga Sunyi jadi tujuanku kemarin. Indah sekali alamnya, dan siapa sangka, banyak juga yang suka jalan kaki pagi-pagi menempuh naik-turunnya jalur Baturraden selain aku si awam ini.
 |
| Solo, Wonogiri, Tawangmangu |
> SoloSejak bertahun-tahun lalu lulus kuliah, ternyata Solo masih kerap jadi tujuanku. Baru kali ini aku akhirnya sadar, yang kurindukan bukan kotanya, tapi suasana dan rasa aman yang diberikan oleh kota kecil ini. Sayangnya, kesederhanaan kota ini tak lagi sama. Sudah kapitalis, kata orang. Kafe di mana-mana. Sepertinya, kalau sudah benar-benar tidak ada teman lagi, rasanya aku tidak akan memilih kota ini untuk menjadi tujuanku berlibur.
> WonogiriBerawal dari niatan untuk berkunjung ke salah satu abang karibku, yang dulu sering kuajak diskusi di kampus. Ternyata keputusan ‘aneh’ ini malah membawa kesan yang baik dariku untuk kota kecil ini. Kalau kubilang Purwokerto itu
slow-living, kota ini lebih-lebih lagi! Dan yang paling menarik adalah: kamu belum resmi jadi pecinta mie ayam kalau belum pernah makan langsung di Wonogiri. Asli.
> TawangmanguMungkin beda cerita kalau aku berkunjung ke Solo untuk transit dan bertujuan ke Tawangmangu yang memiliki beberapa tempat wisata alam maupun buatan yang terkonservasi, contohnya Atsiri. Sayangnya, menurutku tidak perlu diulang sampai beberapa kali. Mungkin kalau aku datang dengan kamu, rasanya jadi lebih
sweet? Aw~
 |
| Parangtritis, Jogja, Magelang |
> MagelangEntah lebih tepat disebut Muntilan, Magelang, atau Borobudur. Perjalanan ke sini berawal dari celetukan seorang teman yang ingin ziarah arsitektur. Sepanjang jalan mengamati kota ini, ternyata nyaman, namun belum begitu terasa. Mungkin karena terlalu singkat waktuku di sini, jadi belum sempat eksplor. Tapi, jika butuh tempat yang tenang untuk masa tua dan bukan daerah yang punya ambisi menjadi kota besar, Magelang bisa dilirik.
> JogjaKatanya, Jogja Istimewa. Kenapa kali ini aku tidak merasa ada istimewanya, ya? Apa mungkin sebenarnya Jogja tidak ramah untuk
solo trip dan baru terasa sekarang? Atau, karena aku tidak bersamamu di sini? Aih, setidaknya ada Kurnia Sari yang bisa kubawa pulang.
Dari sekian panjang perjalanan
solo trip berhari-hari ini, satu hal yang aku yakini: Tuhan Maha Baik dan sebaik-baiknya perencana. Aku juga semakin yakin, apa yang ada di hadapan kita sekarang adalah yang terbaik dari Tuhan, yang memang sudah jadi rezeki kita apapun bentuknya.
Aku memohon diberikan kelapangan hati dalam menerima takdir yang ditentukan oleh-Nya. Dengan merapalkan doa seperti itu, ketika rencana kita tidak berjalan sesuai yang kita mau, rasa kecewa pasti ada, tapi saat itu pula Dia berikan penghiburan sehingga kecewa ini cepat teratasi dan tidak berlarut-larut. Ajaib, tapi bukankah perasaan ini memang datang dari kuasa-Nya juga?
Dan pada akhirnya, perjalanan yang kuanggap
bukan mumpung, reward, atau escape ini mampu mengajarkan aku tentang:
grateful, genuineness, dan detachment.
Perjalanan ini adalah turning point-ku.
Tulisan ini kuketik seketika di perjalanan pulangku ke rumah.
Ah, indah sekali bisa kembali menulis. RM Bu Ida Gondangdia jadi saksinya.