11/23/25

Mama Menangis

Ini bukan kali pertama Mama menangis...

Mamaku adalah sosok manusia yang kuat sekali dan penuh penerimaan. Aku sanggup berkali-kali mengatakan ini di hadapan orang banyak, karena makin lama rasa bangga dan sayangku untuk Mama makin besar... yang baru kusadari.

Kali ini, Mama secara 'terpaksa' menampakkan kerapuhannya di depanku. Mama menangis, berderai air mata seperti saat ia kehilangan sosok ibunya dua tahun lalu. Penyebab utamanya memang karena demam dan tubuhnya sedang drop, sama halnya ketika kita sedang sakit dan bikin kita jadi mellow. Tapi penyebab lainnya ternyata karena ia teringat rasanya dirawat oleh ibunya ketika sedang sakit.

Mamaku merindukan ibunya. Bisakah dibayangkan betapa sedih dan letihnya yang sedang ia rasakan? Pasti kita semua pernah merasakan rindu itu.

Ternyata, sekuat-kuatnya sosok Mamaku yang selama ini kulihat, ia juga seorang anak dari ibunya. Lagi-lagi, ini hal yang baru kusadari. Kadang kita merasa jadi anak yang membutuhkan sosok ibu, tapi ibu kita pun juga seorang anak dari ibunya. Hal yang sangat manusiawi sekali jika seorang ibu sedang berada di titik terendah akan membutuhkan sosok ibunya. 

Semoga kehidupan Mama senantiasa diberkahi kebahagiaan.
Dan twit ini muncul bertepatan dengan apa yang aku ketik dalam draft (yang akhirnya published).



7/17/25

Kita Semua adalah Sore?

Kalau dipikir-pikir, kapan terakhir nonton film yang sampai nangis bombay?

Sepulang kerja, aku menyempatkan nonton film yang belum lama ini muncul di bioskop di bilangan Kuningan. Sempat aku membatin, “kalau rame gini apa bakal dapet ya pesan filmnya?

Hei batin, ternyata berkecamuk toh kamu dibuat oleh Sore? Hahaha..

Di tengah perasaan aneh yang menggelutiku sepanjang perjalanan pulang —bahkan perasaan ini sampai seharian tak hilang, aku coba menuliskan perspektifku dari apa yang aku tonton dan kurasakan, yang entah kenapa rasanya... begitu personal.

Ini tentang Sore: Istri di Masa Depan. And this is my personal take about the film —spoiler alert!

5/7/25

Taking a break

Berapa lama kalian bertahan deactivate akun Instagram? Sehari, seminggu, sebulan, atau enam bulan?

Yes, I am currently taking a break from my daily IG routine. Sederhana sekali alasannya: aku merasa lelah tiap melihat hampir setiap orang yang mutual denganku memiliki pattern postingan yang sama. Rasa lelahku akan hal ini sudah di titik tak lagi menyehatkan rasanya, mungkin hanya 10-15 dari sekian ratus yang pattern-nya berbeda. Logout saja tidak mempan —ini karena Instagram tidak memiliki fitur yang oke soal logout 1 akun dalam 1 device.

Lagipula, siapa bilang medsos hanya medsos aja?

Kata mereka ‘cuma’ medsos, tapi kini media sosial sudah bergeser peran dan fungsinya lho. Kalau memang ‘cuma’, untuk apa ada brand/perusahaan yang butuh merekrut karyawan yang khusus mengurus hal ini?

Ku ceritakan sedikit pekerjaanku menjadi anak medsos yang berjalan 5 tahun (di dunia profesional).. keseharianku membuat aku harus mengakses 4 akun profesional + 1 akun pribadi di hampir setiap waktu dalam 24 jam. Apalah itu second account, mana terpikir. Di jam-jam tertentu, aku membaca dan meriset materi kontenku, lalu aku mengetik, dan kemudian aku memposting kontenku. Tak berhenti sampai situ, setiap konten yang sudah kubuat dan posted, aku harus bisa menganalisis beberapa hal: 
- is this content works or not?
- how’s the engagement?
- and how’s the audience POV while reading the whole content?

Yang menurut mereka ‘cuma’, ya di dalamnya tidak begitu. Bisa menjadi kompleks atau tidak, tergantung bagaimana posisi medsos untuk brand/perusahaan tersebut. Jika memang berada di industri digital, pastilah medsos kompleks.

Aih, untuk apa kujelaskan panjang lebar, toh ini bukan seminar atau sharing session soal medsos 😅

Kembali lagi ke ceritaku. Aku sedang beristirahat dan mencoba kembali fokus untuk menikmati dunia nyata agar tidak tenggelam dalam perasaan lelah karena dunia maya. Aku membaca buku, berinteraksi dengan teman, bekerja seperti biasa, dan sesekali aku main twitter. Aku tidak depresi, hanya butuh rehat sejenak. Sejenak… bisa dua minggu, sebulan, atau mungkin lebih? Hanya belajar mengikuti kesiapan diriku sendiri, sebagaimana aku sedang belajar memanusiakan manusia.

Sejauh ini, rasa ini bisa kunikmati kok.


4/26/25

On Her Trip..

Kalender menunjukkan sebentar lagi ada yang akan hangus. Kulirik jatah cuti tahunan yang masih di angka 8, daripada terbuang sia-sia karena tak bisa jadi rupiah, kuputuskan untuk mengambil beristirahat dari layar dan hiruk-pikuk informasi yang jadi keseharian. Awalnya, aku bertekad solo trip dari tanggal 20-27 April ke Purwokerto, Solo, dan Jogja. 

Ternyata, Tuhan Maha Baik, banyak sekali surprise dari perjalanan ‘iseng’ ini dan jika dari 3 kota tersebut diturunkan, beranak-pinak aku terbawa ke daerah baru lainnya.


Sokaraja, Purwokerto, Baturraden

> Purwokerto
Siapa sangka kota ini bisa memberi kesan pertama yang baik untukku? Urusan kuliner memang tidak banyak ragamnya, tapi keramahan dan kesederhanaan justru terasa nyata di sini. Definisi slow-living lebih terasa di sini ketimbang di Solo. Walaupun slow-living, kota ini lebih memerhatikan infrastruktur transportasi umum ketimbang kota lain yang aku kunjungi. Kedatangan selanjutnya ke kota ini satu-dua hari tidak akan cukup, harus lebih dari tiga hari.

> Baturraden
Kalau ada yang bilang Tawangmangu atau Sekipan itu bagus, jangan salah, Baturraden lebih dari itu! Telaga Sunyi jadi tujuanku kemarin. Indah sekali alamnya, dan siapa sangka, banyak juga yang suka jalan kaki pagi-pagi menempuh naik-turunnya jalur Baturraden selain aku si awam ini.


Solo, Wonogiri, Tawangmangu

> Solo
Sejak bertahun-tahun lalu lulus kuliah, ternyata Solo masih kerap jadi tujuanku. Baru kali ini aku akhirnya sadar, yang kurindukan bukan kotanya, tapi suasana dan rasa aman yang diberikan oleh kota kecil ini. Sayangnya, kesederhanaan kota ini tak lagi sama. Sudah kapitalis, kata orang. Kafe di mana-mana. Sepertinya, kalau sudah benar-benar tidak ada teman lagi, rasanya aku tidak akan memilih kota ini untuk menjadi tujuanku berlibur.

> Wonogiri
Berawal dari niatan untuk berkunjung ke salah satu abang karibku, yang dulu sering kuajak diskusi di kampus. Ternyata keputusan ‘aneh’ ini malah membawa kesan yang baik dariku untuk kota kecil ini. Kalau kubilang Purwokerto itu slow-living, kota ini lebih-lebih lagi! Dan yang paling menarik adalah: kamu belum resmi jadi pecinta mie ayam kalau belum pernah makan langsung di Wonogiri. Asli.

> Tawangmangu
Mungkin beda cerita kalau aku berkunjung ke Solo untuk transit dan bertujuan ke Tawangmangu yang memiliki beberapa tempat wisata alam maupun buatan yang terkonservasi, contohnya Atsiri. Sayangnya, menurutku tidak perlu diulang sampai beberapa kali. Mungkin kalau aku datang dengan kamu, rasanya jadi lebih sweet? Aw~


Parangtritis, Jogja, Magelang

> Magelang
Entah lebih tepat disebut Muntilan, Magelang, atau Borobudur. Perjalanan ke sini berawal dari celetukan seorang teman yang ingin ziarah arsitektur. Sepanjang jalan mengamati kota ini, ternyata nyaman, namun belum begitu terasa. Mungkin karena terlalu singkat waktuku di sini, jadi belum sempat eksplor. Tapi, jika butuh tempat yang tenang untuk masa tua dan bukan daerah yang punya ambisi menjadi kota besar, Magelang bisa dilirik.

> Jogja
Katanya, Jogja Istimewa. Kenapa kali ini aku tidak merasa ada istimewanya, ya? Apa mungkin sebenarnya Jogja tidak ramah untuk solo trip dan baru terasa sekarang? Atau, karena aku tidak bersamamu di sini? Aih, setidaknya ada Kurnia Sari yang bisa kubawa pulang.


Dari sekian panjang perjalanan solo trip berhari-hari ini, satu hal yang aku yakini: Tuhan Maha Baik dan sebaik-baiknya perencana. Aku juga semakin yakin, apa yang ada di hadapan kita sekarang adalah yang terbaik dari Tuhan, yang memang sudah jadi rezeki kita apapun bentuknya.

Aku memohon diberikan kelapangan hati dalam menerima takdir yang ditentukan oleh-Nya. Dengan merapalkan doa seperti itu, ketika rencana kita tidak berjalan sesuai yang kita mau, rasa kecewa pasti ada, tapi saat itu pula Dia berikan penghiburan sehingga kecewa ini cepat teratasi dan tidak berlarut-larut. Ajaib, tapi bukankah perasaan ini memang datang dari kuasa-Nya juga?

Dan pada akhirnya, perjalanan yang kuanggap bukan mumpung, reward, atau escape ini mampu mengajarkan aku tentang: grateful, genuineness, dan detachment

Perjalanan ini adalah turning point-ku.


Tulisan ini kuketik seketika di perjalanan pulangku ke rumah
Ah, indah sekali bisa kembali menulis. RM Bu Ida Gondangdia jadi saksinya.

2/16/25

The Script in Jakarta!

Who would have thought about the idea of going SOLO to a concert? and it’s The Script??

Of course the 16 years-old-me never expected to go on a The Script concert at the age of 27 🤣 sendiri, pula.

The Script!!

Working on a media company was really the best scenario that god addressed me —i had privileges like invited to a special events and also meet my boyfriend 😋. Yes I often went to concerts, but on a work purpose, alias liputan. But not this time.

I went. to The Script’s concert. alone. the experience was really DIFFERENT.

The opening was performed by Hoobastank. Actually i dont really know about their songs (sorry i’m not really into it) except “The Reason”. Ya… siapa sih yang enggak tau lagu satu itu?

Here’s the set list of The Script Jakarta 2025:
  1. You wont feel a thing
  2. Superheroes
  3. Rain
  4. Both ways
  5. Six degree of separation
  6. The man who cant be moved
  7. The last time
  8. Inside out
  9. If you could see me now
  10. Never seen quite like you
  11. Before the worst
  12. Nothing
  13. No good in goodbye
  14. Paint the town green
  15. For the first time
  16. Home is where the hurt is
  17. Breakeven
  18. Hall of fame closing
Thank Gooodddd for the experience i had! 
Maybe Paramore or Greenday concert for the next, eh? 😝

1/16/22

Revealing Myself

My biggest achievement was not coming from my organizational activities, it came from my personal life story. I healed from my heartbreak. A year full of tears, pain, and demotivation. There was a time I feel I'm so messed up then I sought help from a professional, and I did the treatment. I thought the treatment was going well because my friends also helped me through that time. I feel blessed for what happened to me that time and it shaped me to be who I am now; even the better version of me, full of joy, happiness, and more grateful for the life I live. I believe that my life purpose is to become someone who is useful and trustworthy to others.

-fin.

9/2/21

Consciously Conscious

Sadar atas pilihan yang dipilih.

It is okay to be not liked by someone (or even everyone). You don't have to be perfect. All of us are still human beings (and so do you, right?).

It is okay to stay with the people you like instead of staying with the people who like you. Everyone has their territories and decisions (and so do you, right?).

It is okay to be honest with yourself. It is okay to express your deepest feelings, either with anger or crying (or maybe both wkwk). You can sing along to a song you can relate to your feelings too. Everyone has a way to express their feelings.


Everyone will face their problems yet pressure. If you ever feel like you want to quit, just don't. You can take a break, but don't quit.

2/12/21

As a human

As a human we can not choose to have two hands or one mouth or two ears, but what we can learn from them is: every part of them delivers messages within the function of it.

2 mata untuk melihat.
2 telinga untuk mendengar.
1 mulut untuk berucap.

Apa yang kita pandang dari sisi mata tidak harus kita validasi untuk dipercaya ketika kita belum mendengar versi lainnya dari sisi telinga, berlaku sebaliknya. Sedangkan apa yang diucapkan oleh mulut boleh saja berasal hanya dari mata atau apa yang kita lihat, atau telinga atau yang kita dengar, atau saja keduanya, but originally it comes from your mind; the one who took control of what you're gonna say.