Perempuan Berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri, adalah seorang perempuan yang dalam hidupnya udah terbiasa banget dengan sikap berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri selama bertahun-tahun lamanya pasti butuh waktu untuk menyesuaikan dirinya, apalagi ketika dihadapkan dengan keadaan yang berbeda: merasakan ada pasangan.
ketika dirinya yang terbiasa berdikari jadi memiliki pasangan, mau tidak mau harus membiasakan diri dengan situasi "sharing" alias berbagi (dengan pasangannya), yang mana hal tersebut merupakan konsekuensi dari berpasangan. ya kita ngaku aja de ni bahasanya emang lebay tapi kenyataannya emang gitu kan
terlebih dengan intensitas yang ketemu terus, terbiasa dengan hal-hal baru yang telah dilakukan bersama, lalu menjadi sebuah kebiasaan bersama, yang kalo ga dilakuin bersama rasanya kok aneh. sarapan, nugas, halan2, dll. haha hihi gombal gombel, dan klimaksnya prang prung berantem atas perbedaan mendasar yang ada di kedua pihak, dan keberjalanan hubungannya jadi balik kanan bubar jalan.
selang waktu berlalu, ada sesuatu yang dirasa hilang; kehilangan yg setia membayangi. ea
semacam rindu, katanya.
ya itu, perlu adaptasi dari pola A ke pola B untuk mengembalikan pola A lagi. semua orang berubah, ada yang ke arah lebih baik, dan ga sedikit juga yg ke arah sebaliknya. ya itu lumrah, sebagaimana waktu terus bergulir.
pesan moral dari post ini adalah:
- dihargai saja proses tiap orang, karena lain individu lain cara mikir
- perempuan yang terbiasa berdikari juga butuh dibimbing, bukannya malah dihindari karena independennya
- tidak ada yang salah dari 'aku butuh kamu' karena kodratnya manusia diciptakan berpasang-pasangan yaitu untuk memenuhi kebutuhan tersebut
n specially to the boys:
- setiap perempuan yg kamu temui bukan percobaan teori 'emansipasi'
nah wat mentemen semua, jangan segen-segen buat nyemangatin perempuan yang lagi mencoba kembali untuk menjadi berdikari di sekitar kalian ya syapapun itu! ๐✨✨
ketika dirinya yang terbiasa berdikari jadi memiliki pasangan, mau tidak mau harus membiasakan diri dengan situasi "sharing" alias berbagi (dengan pasangannya), yang mana hal tersebut merupakan konsekuensi dari berpasangan. ya kita ngaku aja de ni bahasanya emang lebay tapi kenyataannya emang gitu kan
terlebih dengan intensitas yang ketemu terus, terbiasa dengan hal-hal baru yang telah dilakukan bersama, lalu menjadi sebuah kebiasaan bersama, yang kalo ga dilakuin bersama rasanya kok aneh. sarapan, nugas, halan2, dll. haha hihi gombal gombel, dan klimaksnya prang prung berantem atas perbedaan mendasar yang ada di kedua pihak, dan keberjalanan hubungannya jadi balik kanan bubar jalan.
selang waktu berlalu, ada sesuatu yang dirasa hilang; kehilangan yg setia membayangi. ea
semacam rindu, katanya.
akhirnya baru tersadar, entah di pihak siapa yang duluan sadar.
"oh ternyata si perempuan lupa caranya jadi sosok yang berdikari itu seperti apa.."ya itu, perlu adaptasi dari pola A ke pola B untuk mengembalikan pola A lagi. semua orang berubah, ada yang ke arah lebih baik, dan ga sedikit juga yg ke arah sebaliknya. ya itu lumrah, sebagaimana waktu terus bergulir.
pesan moral dari post ini adalah:
- dihargai saja proses tiap orang, karena lain individu lain cara mikir
- perempuan yang terbiasa berdikari juga butuh dibimbing, bukannya malah dihindari karena independennya
- tidak ada yang salah dari 'aku butuh kamu' karena kodratnya manusia diciptakan berpasang-pasangan yaitu untuk memenuhi kebutuhan tersebut
n specially to the boys:
- setiap perempuan yg kamu temui bukan percobaan teori 'emansipasi'
jangan cuma nuntut kebebasan dan menilai seseorang lebay atas ceritanya. atau lebih buruknya lagi dinilai gak dewasa. penilaian terhadap kedewasaan seseorang ga bisa dinilai dalam secuil urusan itu doang, cuy. :)
percaya sih pengalaman selalu bisa dijadikan bahan belajar dalam hidup. secuil apapun itu. sereceh apapun itu. percaya polllll, mantap.nah wat mentemen semua, jangan segen-segen buat nyemangatin perempuan yang lagi mencoba kembali untuk menjadi berdikari di sekitar kalian ya syapapun itu! ๐✨✨






