6/12/18

Introducing: INSPIGO!

Okeokeee jadi kali ini aku bakal review tentang aplikasi yang menurut aku sangat bermutu hahaha yaitu INSPIGO. Aplikasi ini bisa didownload di playstore atau appstore kok, tapi sayangnya para pengguna windows belum beruntung karena di microsoft store belum ada:(

Ada apa sih di aplikasi Inspigo?

Nah, jadi tuh di dalem Inspigo kamu bisa dengerin berbagai macam podcast dengan bahasan yang beda-beda gitu dan pilihannya buanyak banget ga boong. Yang dibahas apa aja emang sya? Banyak juga nih, contohnya build a critical thinking, people management, building partnership with media, decision making, dan masih banyak banyak banyak lagi. Satu bahasan bisa terbagi jadi 5-8 sesi, dimana persesinya itu dibikin kayak playlist lagu gitu. Dan ohya, itu pembicaranya satu bahasan ya satu pembicara. Yang udah aku denger Critical Thinking – Alamanda Shantika, Judgement & Decision Making – Najwa Shihab, People Management – Wishnutama, dan… lupa apa aja wkwk tapi on going ini ada Writing a Captivating Story – Ernest Prakasa (recommended! Inilah yang mendorong aku jadi suka ngepost di timeline line maupun ngeblog lagi hehe)

Apakah dengan mendengarkan podcast macem itu bener-bener bisa menginspirasi diri sendiri?

Ya enggak cuma didengerin doang doong, dengerin podcast macem itu menurut aku bisa jadi salah satu cara buat bikin gebrakan di dalam diri kita sendiri dalam rangka “improving our self-improvement“. Kayak misal abis aku dengerin punyanya Ernest, aku jadi tau alternatif lain dalam nge-breakdown tujuan-tujuan hidup gitu. Eh gimana ya bahasanya, intinya aku lebih terarahkan aja sih karena untuk ngebreakdown life goals ada baiknya kita lebih peka dengan lingkungan sekitar, terus selama ini kita tinggal di lingkungan yang seperti apa, ngeliat potensi diri sendiri lewat hobi atau diliatnya dari lingkungan lagi gitu, ya macem itu gitudeh. Ya gitu.. wkwk.


Cobain deh aplikasinya, it’s worth to hear di kala gabut melanda. Daripada aku dengerin lagu yang sendu-sendu dan membiarkan sisi melankolisku merajalela menguasai si koleris dan menyingkirkan pikiran-pikiran sehatku kan wkwk.

So, here it goes! Previewnya aplikasi Inspigo kalo di hp android



QOTD:
   "Move on dari kegagalan itu emang susah, tapi, lebih susah lagi move on dari keberhasilan."

6/6/18

one of a kind: Leader.

di tengah-tengah rasa suntuk akan kepadatan deadline menjelang pulang ke kampung halaman, aku memutuskan untuk ngepost di blog. oke sya siaaaap wk.

so halo semua! akhir-akhir ini aku sering banget ngeblog ya ga sih? iya jadi demen nulis lagi sekarang.. pelan-pelan mau nekunin sambilan sbg reviewer nih! entah itu book review, movie, places, food, application, stuffs, online shop, dan semacamnya lah ya..

well ok guys jadi tiba-tiba banget aku pengen ngeshare tentang siapa sosok "leader" menurut aku.

pertama-tama, apa sih maknanya leader?
pemimpin? oke. ketua? oke juga. kepala? oke juga kok. ya semua pendapat bener-bener aja sih kan semua orang bebas berpendapat. hehehe..

menurut aku, leader (atau leadership) itu gimana seseorang itu menjadi sosok yang teratas, tapi dengan dia punya posisi teratas atas sesuatu itu dia harus bisa mengayomi apa yang ada di bawahnya dan juga memberikan bimbingan entah itu bimbingannya dalam bentuk motivasi, semangat, atau ya semacamnya lah ya kalian pasti ngerti kan udah gede (hem). wkwk. TAPI di sisi lain sosok itu juga harus tetep disegani sama apa yang ada di bawahnya, tetep ada respect dari bawahnya juga gitu, walaupun metode dia untuk mengayomi bisa aja kan dengan cara membaurkan diri sama bawahannya itu biar dapet kinerja yang baik di dalam tim. setuju apa setuja?

dan sulitnya menurutku, adalah harus membedakan posisi sosok leader ketika dia berhadapan dengan orang-orang di dalam internal timnya sendiri dan ketika dia berhadapan dengan orang luar timnya. anggep di suatu organisasi ada ketuanya, nah dia ini menggunakan metode "jadi konco" sama staffnya supaya bondingnya dapet dan terbentuk iklim kinerja antartim yang manteup. cuma sama staff-staffnya dia make metode ini, untuk yg lain nggak; auto-memposisikan diri sebagai "ketua".

4/5/17

choices

sejatinya hidup itu pilihan,
segalanya yang akan kita hadapi di hidup ini ya itu semua pilihan.

segalanya?
menurut saya, iya segalanya.

kamu kerja dengan gaji gede berlimpah ruah sampe bisa hura-hura perminggunya tapi kamu dihadapi oleh pilihan bosnya galak, kerja 10 jam weekdays,
atau,
kamu kerja di tempat kerja yang lingkungannya nyaman, enak, friendly, tapi digaji sekedar kebutuhan hidupmu berkecukupan tapi masih mampu buat sedekah.

nah, itu termasuk pilihan kan?

semakin dewasa, semakin banyak pilihan dari macem-macem pilihan yang bakal dihadapi,
semakin banyak pilihan, semakin keasah juga kedewasaannya; pola pikirnya bakal berubah juga.
semua ada korelasinya.

dan, ohiya,
pola pikir dengan tingkah polah menurut saya berbeda,
ada orang dengan pola pikir kekanakan, tapi tingkah lakunya kaku, tua, pokoknya nggak mewakili pola pikirnya banget tingkahnya
tapi, ada juga yang orang punya pola pikir jauh, dewasa, mateng, walaupun tingkah lakunya cengangas cengenges sana sini.

setiap orang punya caranya masing-masing dalam berpikir bagaimana dan apa aja yang akan dia lakukan untuk membawa dirinya tetap bertahan hidup. bertahan hidup yang dimaksud ini juga banyak lho cakupannya, termasuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan hakikat manusia pada umumnya yaitu bersosialisasi. riwet ya bahasanya? hehe

sekiranya ini aja, post di awal bulan April.
btw, lagi di masa-masa minggu deadline nih.. udah kayak plant vs zombie yang ada notifnya zombie zombie dateng gitudeh hahah

1/7/17

enam belas

dua ribu enam belas telah berganti dua digit belakangnya menjadi tujuh belas.

Enam belas cukup memberi pelajaran buat gue (gue?). Sangat, deng. Apa yang gue serap di enam belas gue harap bisa jadi bekal yang bisa membantu gue utk terus berkembang di tujuh belas kedepan. Banyak, banyak banget pelajaran di enam belas bagi gue.

btw jijik gasih bacanya kalo sok sok an pake gue gue gitu?-_-

Mulai dari awal tahun, gue deket bgt sama anak-anak arsi. persiapan Manasik (malam keakraban asiktektur hehe) dan ngurus Poranta.
Disambung terus sampe penghujung bulan ketiga di enam belas, gue masih into architecture deh, karena mau tidak mau (seharusnya) angkatan 2015 terlibat kepengurusan panitia PTAB yang emm, emangsih, butuh perhatian lebih gitu gue akuin buat ngurus PTAB. di angkatan gue sih gitu, gatau angkatan sebelum-sebelumnya gimana, karena kan depends bgt sama angkatan yg ngadain kaan orientasinya utk siapa pihak mana dllnya.
laluu kurang lebih enam bulan bener-bener terfokus pada PTAB dan rangkaiannya (ondesk, mapres, inaugurasi), gila dah. bener-bener disitu bisa dapet pelajaran banget dan bisa kenal emang sama temen-temen seangkatan, tabiat dsbnya jadi bisa tau lah ya hahahah.
DAN DI PTAB memungkinkan sekali bagi kalian utk bisa baper dengan teman seangkatan. emm, ngasi tau aja sih, heheh :)))
oh ya, belum lagi di bulan kedelapan dihadapin sama PKKMB jadi panitia di fakultas. berbarengan jalannya bareng persiapan hari-H PTAB. selesai PTAB dan inaugurasi akhirnya.
ketika masuk bulan ke sepuluh di enam belas, gue dihadapin lagi dengan kepanitiaan Insting, lomba-lomba olahraga dan ada juga seninya tapi utk ranah FT aja. tapii, kepanitiaan Insting tahun ini nyatanya bentrok dgn FAM, festival apresiasi mahasiswa yang kegiatannya tuh ada rangkaiannya juga. utk FAM teknik kemarin gue diamanahin utk megang bagian publikasi Senapati. kalo baru dipikir-pikir sekarang.. semua itu hectic sekali tapii udah lewat hecticnya:) hahahah.

dan tapi di enam belas yang amat sangat gue sesali.. gue sedikit melepas akademik gue.. kuliah gue beberapa keteteran.. almost semuanya bahkan yg keteter..

dan itu menyebabkan gue di bulan terakhir dua ribu enam belas menjadi gue yang sedih, gampang stress (yang ditandai dg jerawat +rambut rontok parah), pegalau (wkwk), yagitudeh.

dan kalau bahas kisah percintaan..


12/9/16

Je r a

Kerap kali batin terusik pertanyaan,

   apa sebab datangnya jera? 
  bisakah ia datang tanpa diminta? 
 bisakah ia datang tanpa sebab?

masih terus terusik, karena belum tau jawabnya
untuk bertanya pada siapa-nya saja belum tau


apakah kamu punya jawabnya?

11/15/16

Pulau Dewata

Kedua kalinya..

Hai, Dewata!
Ini adalah kali keduaku mengunjungimu. Ternyata, tidak jauh berbeda ya kamu dari sebelumnya. Hmm, mungkin suasana dariku yang membuatmu berbeda dari yang sebelumnya.

Perjalananku bisa dibilang cukup menyenangkan (walaupun kalau ditimbang-timbang antara senang dan tidak senangnya, jauh lebih banyak tidak senangnya haha). Ditemani beberapa temanku yang sebenarnya tidak cukup dekat, dan juga kakak-tingkatku yang sangat banyak sekali:) hahaha.

Hari-hari yang singkat; 5 hari. Cukup menyesal karena tidak membawa kamera :'(
Tak ada sunset, tak ada GWK (seperti dulu)
Yang ada hanya pantai, tempat oleh-oleh, dan 2 studio arsitek, hahaha
Pie susu dua pak dan gelang handmade serenteng
Penyusuran gang-gang kecil Legian yang diiringi dentuman musik keras pub
Makan teratur; 3 kali sehari yang berbuah "pulang-pulang melar"
Hotel yang sepi, McD yang jauh... hahah.


Semoga di lain kesempatan, bisa lebih kunikmati perjalananku.

- landing di kos tersayang.

10/23/16

ca n d u

dengan sabar kamu menungguku membuka pintu
katamu, kamu takkan pergi sebelum aku masuk rumah
bagiku, ini terasa lucu, walau hanya hal kecil seperti itu
mungkin, karena aku sedang kosong.

memandangmu seakan candu,
bicara denganmu seakan candu,
tertawa denganmu seakan candu,

segala yang berkaitan denganmu,
seakan-akan sebuah candu

kamu si tembem,
berkacamata hitam kotak,
berambut halus rajin disisir,
dengan logat khasmu.



- minggu dini hari di teras kosan

10/8/16

b a r u

semua terasa baru
rutinitas, suasana,
hingga perasaan,
semua baru

baru, karena ada yang berubah
baru, karena memilih tuk begitu
baru, karena dirasa tak lagi sama
baru, karena yang lama telah berganti

sebab berubah kadang tak relevan.
dipilih begitu karena "hidup itu pilihan".
terlihat samar namun dirasa tak sama.
telah berganti, perlahan sirna.

linglung, entah harus kemana.
lelah, butuh bersandar, tak tahu pada siapa.

sampai pada akhirnya kepercayaan berangsur hilang.
tak ada yang menemani,
tak punya tempat bersandar,
berdiri sendiri-sendiri,
tak ada yang bisa dipercayai,

olehnya. olehku juga.


lantas, harus mulai darimana (lagi)?