Hari itu bersama dia.
Selasa, 6 November.
Selasa, 6 November.
Tepat
hari ini. Ya, hari Selasa. Ahaha, bukan tanggal ini tapinya. Hanya harinya saja
yang sama.
Masih
ingatkah kamu? Ketika itu kau menghampiriku dengan motormu yang.. terlihat
sekali belum kau cuci. Hahaha aku hanya bisa berharap kau ingat itu semua.
Terjadi
percakapan kecil di antara kita. Ya, maaf saja percakapan di kala itu tidak
seperti biasanya; yang.. oke ku akui dapat membuatku tertawa terguling-guling atau menguap sampai
terantuk-antuk. Aku belum biasa melihatmu, berbicara denganmu, secara langsung.
Bertemu seperti itu.
Memang,
untukku sendiri, itu semua memang sulit. Ya, sulit untuk melanjutkan apa yang
sudah terjadi di dunia maya dengan dunia nyata. Sama halnya seperti kamu sedang
ber-bbm ria dengan seseorang, sebut saja X. Kamu dan dia sedang dalam tahap
PDKT, mendekati jadian. Kamu bbm-an sama X. Kamu rela mengeluarkan emoticon
yang.. ahahah. You know what I mean, so I don’t
have to explain the detail to you right? J Padahal, di kehidupan nyata? Belum tentu kamu berani
mengeluarkan emoticon-emoticon yang sering kamu keluarkan di bbm.
Seperti
itulah aku. Berbeda dengan yang lain.
Hanya
sepatah-dua patah kata yang mampu aku keluarkan secara lisan. Uh, itupun dengan
susah payah kucoba untuk mengeluarkannya.
Dan,
aku mulai menaiki motor itu. Motormu. Masa iya motor pak Cahyat? Ugh.
Umm,
aku malu untuk menyampaikannya..
Ketika
itu, kamu sedang fokus dengan perjalanan, mmm mungkin.. Aahaha. Ketika itu, aku
sungguh tak sadar merasakan bahwa, senyum samar dari bibirku terlihat
tersungging begitu saja. Aku saja sampai tak sadar, bagaimana bisa aku
memikirkan apa yang membuatku tersenyum sebelumnya?
Mungkin
kalau kata lirik lagu, “..tak mampu ungkap kata, cuma hati yang bergetar..”
ahahah! Bodoh sekali! Memang, love could driving you crazy at the time!
Kamu
bertanya sesuatu saat itu di kala aku masih tak sengaja tersenyum. Uh,
benar-benar bising sekali jalanan hari itu! Sampai-sampai suaramu yang hanya
berjarak tidak sampai radius 1 meter pun saja aku tak bisa mendengarnya!
Berulang
kali ku menjawab pertanyaanmu dengan kata “Hah?”. Aku yakin kamu bosan
mendengar kata “Hah?” yang keluar dari mulutku dengan nada yang.. ewh itu.
Ahahaha aku tak mengerti sungguh mengapa ketika kucoba untuk mengulang kembali
cerita itu seperti ini malah terasa sangat bodoh.
Senyum
yang tanpa sadar mengembang begitu saja..
Perasaan
yang.. tak keruan sampai tak bisa dijelaskan dengan... ugh..
Hati
yang berdebar-debar dahsyat bagai gempa yang berkemungkinan tsunami..
Semua
itu.... terjadi sekaligus dalam saat itu. Sore itu.
Aku
terus bertanya-tanya, apa ini normal?
Aku
terus bertanya-tanya, apa yang kamu rasakan sama halnya dengan yang aku
rasakan?
Aku
semakin tak mengerti. Ah, ini tak penting untukku!
Sekarang...
entah mengapa, ketika kejadian itu terulang sendiri dalam memori otakku, aku merasakan
rindu yang amat besar.. rindu yang sangat besar... rindu yang amat sangat
teramat besar... pada sosok di depanku itu. Ya, yang mengantarku itu. Kenangan
dan segala-galanya yang terjadi di hari itu, di detik dan menit itu, kini
terasa sangat amat merindukan sekali.
Aku
rindu dengan semua itu..
Aku
kangen dengan semua itu..
I
miss you so much. Even every single word can’t describe how much I miss you. I just want to tell you, I just want you to know the truth. Yes, the truth is I miss you so much.
...bersambung
No comments:
Post a Comment