10/23/16

ca n d u

dengan sabar kamu menungguku membuka pintu
katamu, kamu takkan pergi sebelum aku masuk rumah
bagiku, ini terasa lucu, walau hanya hal kecil seperti itu
mungkin, karena aku sedang kosong.

memandangmu seakan candu,
bicara denganmu seakan candu,
tertawa denganmu seakan candu,

segala yang berkaitan denganmu,
seakan-akan sebuah candu

kamu si tembem,
berkacamata hitam kotak,
berambut halus rajin disisir,
dengan logat khasmu.



- minggu dini hari di teras kosan

10/8/16

b a r u

semua terasa baru
rutinitas, suasana,
hingga perasaan,
semua baru

baru, karena ada yang berubah
baru, karena memilih tuk begitu
baru, karena dirasa tak lagi sama
baru, karena yang lama telah berganti

sebab berubah kadang tak relevan.
dipilih begitu karena "hidup itu pilihan".
terlihat samar namun dirasa tak sama.
telah berganti, perlahan sirna.

linglung, entah harus kemana.
lelah, butuh bersandar, tak tahu pada siapa.

sampai pada akhirnya kepercayaan berangsur hilang.
tak ada yang menemani,
tak punya tempat bersandar,
berdiri sendiri-sendiri,
tak ada yang bisa dipercayai,

olehnya. olehku juga.


lantas, harus mulai darimana (lagi)?

10/4/16

tetanya

berkecamuk; tak tentu arah. entah, terserah angin akan dibawa kemana semua ini.

terjatuh lagi di tempat yang sama, hanya saja ceritanya berbeda.
kecewa namun tak jera, padahal sudah saling menyempatkan waktu.
sia-siakah waktu kita? menguap begitu sajakah semua yang terucap?
jika tak ada yang sia-sia, mengapa begini? salah siapa, atau, salah apa?


sulit sekali mengartikannya, sampai kapan harus dimengerti?